Iring – iringan manten pihak calon suami datang tepat pukul 07.00 WIB, rasa deg – degan semakin berkecamuk manakala Aku masih duduk manis di kamarku sendiri yang sudah disulap bak kamar ratu dengan hiasan kelambu berwarna krem, 3 pot besar bunga sedap malam dan aneka bunga mati yang menggantung di sudut kamarku. Aku yang sudah cantik dengan poles riasan Ibu Rifa’ i, menanti proses ijab kabul oleh penghulu Kelurahan Sukabumi.
Menanti datangnya sang penghulu kurang lebih 30 menit, nyanyian shalawatan dari soundsystem depan rumah menambah suasana haru dan bahagia yang tak terkira saat itu dimatikan. Berganti dengan suara sang penghulu membuka acara terlebih dahulu dengan mukadimah dan prakata ceramahnya, tibalah pukul 08.00 WIB sesuai dengan jam yang ada di undagan Walimatul Ursy segera dilaksanakan. Bertempat di rumah ayahku Jl. Seruni IV / 3 Probolinggo, calon suamiku duduk berhadapan dengan sang penghulu wali nikah (ayahku), dan 2 orang saksi. Para undangan yang datang saat itu diam, hening dan senyap. Alhamdulillah... proses ijab hanya berlangsung 1 kali dan hasilnya SAH yang dinyatakan oleh saksi. Doa telah selesai dibacakan oleh penghulu dan kuusapkan kedua tanganku berucap syukur “Alhamdulillah”....
Tibalah Aku yang dijemput oleh mama dan ibu mertua, keluar dari kamar Aku disambut dan bersalaman dengan sanak keluarga, teman kerabat dan sahabat. Tanda tangan buku nikah kami lakukan berdua, Akupun mencium tangan suamiku dan suamiku mencium keningku dihadapan para undangan,,, MALU??? Pastilah tapi kebahagiaanku itu tidak kalah dengan perasaan lega. Kebahagiaanku bertambah manakala melihat dua orang wajah sahabat sejati yang tak pernah mati sekalipun yakni Irma Suryani, SE. Dia adalah sahabat semasa SMA dahulu dan yang tak ketinggalan juga datangnya sahabat suami tercinta yakni Ervan Afrizal, ST menyempatkan diri datang jauh – jauh dari Jakarta hanya demi melihat sahabat terbaiknya menikah saat itu.
Moment itulah yang tak lupa kulewatkan untuk berfoto ria dengan orang – orang spesial, mulai dari sanak saudara, kerabat dan sahabat suami hingga sanak saudara, kerabat dan sahabat dari pihakku. Terima kasih bapak dan mama yang telah menghantarkanku menjadi anak dewasa yang kini kau lepas guna menjadi istri. Sungguh pengorbananmu sangat luar biasa. Tak pernah sedikitpun aku membuat hatimu hancur, menjadi anak yang penurut dan bisa kamu andalkan adalah impianku selama ini dan selamanya.
Kini aku resmi menyandang status baru sebagai istri Wahyudi dan berhak dipanggil Ibu Wahyudi disaat Aku bertemu dengan orang – orang baru maupun orang – orang lama yang menyapaku di luar sana. Tak kusangka semuanya berjalan dengan baik dan lancar hingga akhirnya Aku memutuskan Harapan Baruku dengannya, bahagia sampai kakek nenek dan maut memisahkan.